Saat ini Bike to Work (B2W) semakin diminati dan menjadi tren baru. Demi untuk semakin mendorong pertumbuhan gerakan ini, Polygon sebagai salah satu produser sepeda terbesar di Indonesia, bahkantelah merelease seri sepeda polygon b2w jenis MTB dan sepeda lipat, dengan warna kuningnya yang khas. Harganya pun cukup murah. B2W dengan segala keunikan dan manfaatnya telah berhasil mengusik minat saya untuk mencobanya. Dalam rangka berpartisipasi dalam gerakan B2W Indonesia, saya memutuskan untuk mulai ke kantor dengan sepeda pada Kamis, 17 Mei 2018, yang kebetulan bertepatan dengan awal puasa. Meskipun gerakan B2W di kota Solo belum sebesar Jakarta, Bandung atau
Tasikmalaya, namun geliatnya sudah mulai kelihatan. Setiap pagi saya
beberapa kali berpapasan dengan mereka, dan inilah yang membuat saya
semakin bersemangat untuk memulainya. Apalagi semakin sering juga event
sepeda diselenggarakan di Solo. Yang cukup besar adalah Event Jamselinas
beberapa waktu lalu.
Persiapan
Jarak yang ditempuh dari rumah ke tempat kerja sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 6 KM, atau 12 KM pulang pergi. Dengan kondisi jalan 90% aspal dan sedikit jalan rusak. Mulai dari rumah hingga 3 KM pertama jalan menanjak halus antara 1 - 3 derajat. Secara kasat mata jalan memang terlihat landai namun sebenarnya menanjak. Baru ketika mulai mengayuh sepeda akan terasa bedanya. Karena saat berangkat, kayuhan akan terasa lebih berat dibandingkan ketika pulang. Untuk B2W, paling sering saya memakai sepeda MTB jadul merek Federal, diselingi sesekali menggunakan seli (sepeda lipat) AirWalk. meskipun bukan seli sekelas Brompton, Dahoon atau Polygon Urbano, tapi sudah cukup memuaskan. Jika memakai MTB waktu yang saya butuhkan untuk sampai ke kantor rata-rata sekitar 20 menit. Selisih 5 menit lebih lama jika memakai sepeda lipat. Di hari pertama B2W ini, saya memilih MTB untuk ke kantor naik sepeda.
![]() |
Jalur B2W |
Sebelum memutuskan untuk bersepeda ke kantor, sebenarnya ada banyak kekuatiran dalam pikiran saya. Selain karena sudah sangat lama saya tidak bersepeda. Mungkin sudah lebih 20 tahun tidak gowes. Jadi satu bulan sebelum hari yang saya tentukan untuk start B2W, saya coba gowes gowes ringan dulu. Diawali dengan keliling komplek. Coba ikut acara sepeda santai yang kebetulan banyak diadakan di kota Solo.
Untuk sepeda, sudah ada dua unit siap untuk dipancal. Yang pertama sepeda Federal StreetCat jenis MTB dan Folding bike merk AirWalk yang keduanya hanyalah sepeda frame besi. Jadi bukan termasuk kasta atas yang mahal. Tapi saya rasa sudah lebih dari cukup untuk memulai B2W.
Sepeda Federal StreetCat 550 thn 1986 |
Hari pertama Gowes
Setelah mengecek kondisi sepeda, mulai dari tekanan ban, rem dan shifter, saya mulai megowes tepat jam 07:45. Masuk kantor jam 08:30 dengan waktu tempuh 20 menit harusnya masih ada waktu untuk istirahat dan prepare sebelum mulai rutinitas kerja.
1 KM pertama saya menikmati perjalanan. Keluar dari kompleks mulai masuk ke jalan aspal mulus dengan kanan kiri sawah ditambah segarnya udara pagi dan sinar matahari yang masih hangat. Sungguh pengalaman yang menambah semangat.
Memasuki kilometer ke 4, saya mulai keteteran. Nafas mulai ngos-ngosan. Ternyata menggowes sendirian berbeda dengan saat bersepeda bersama-sama. Ditambah dengan perasaan takut terlambat masuk kerja. Membuat saya kesulitan menjaga ritme kayuhan dan terlalu terburu-buru, hingga membuang tenaga terlalu banyak.
Berdasar pengalaman tersebut, saya ingin memberikan sedikit tips untuk Anda yang ingin memulai B2W. Pada hari libur, sediakan waktu untuk mencoba rute B2W yang akan dilalui terlebih dahulu. Selain untuk mempelajari rute, mengukur kemampuan fisik, yang paling penting adalah untuk mengetahui berapa jam kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak dari rumah ke tempat kerja. Waktu tempuh sangat penting untuk diketahui supaya nanti bisa memperkirakan jam keberangkatan yang tepat agar tidak terlambat masuk kerja, dan kita bisa menggowes dengan tenang.
Persoalan berikutnya yang paling mengganggu saya adalah masalah keringat. Saya termasuk orang yang mudah berkeringat. Kan tidak lucu jika kita sampai ke kantor dengan kondisi badan basah karena keringat. Belum lagi masalah bau badan yang mungkin juga akan muncul. Ada yang menyarankan untuk membawa pakaian ganti. Tapi untuk kasus saya, jika harus membawa pakaian ganti, pasti akan sangat ribet. Karena tempat saya bekerja adalah pabrik yang untuk masuk saja harus melalui pemeriksaan ini itu, hingga pasti akan sangat ribet jika harus menbawa banyak barang.
Ternyata pagi ini saya buktikan bahwa keringat bukanlah masalah besar saat B2W. Selama kita bisa bersepeda dengan santai dan nyaman, kita tidak akan banyak mengeluarkan keringat. Agar bisa mengayuh sepeda dengan santai, saya menyiasatinya dengan berangkat lebih pagi, sehingga bisa memiliki cukup waktu. Hitung-hitung sambil menikmati suasana pagi. Jaket sengaja tidak saya pakai, saya lipat dan diikat di carrier belakang sepeda. Dan baru saya pakai nanti waktu pulang kerja. Sinar matahari yang hangat dan angin yang berhembus turut membantu keringat saya menguap cepat hingga baju tidak terasa basah oleh keringat.
Untuk melawan bau badan, andalan saya hanya berupa deodorant yang saya pakai seperti biasa. Selain itu saya juga membawa gel parfum yang sengaja telah disiapkan istri. Katanya untuk dioleskan ke tubuh sesampainya di kantor. Ternyata tips ini cukup efektif. Setelah sampai kantor, dan istirahat sebentar untuk mengeringkan keringat, saya lalu mengoleskan parfum gel ke sekujur badan. Bau keringat sudah tidak jadi masalah lagi.
Perjalanan B2W pertama ini ternyata hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit hanya selisih 10 menit dibanding kalau pakai sepeda motor. Mungkin untuk jarak yang hanya 6 KM, perbedaan waktu tempuh tidak terlalu signifikan.
Waktu Pulang
Waktu pulang saya tempuh dengan lebih ringan. Mungkin karena gowesnya tanpa beban. tidak diburu waktu dll. hal ini semakin dipermudah dengan kontur jalanan yang cenderung menurun ketika pulang. Saya putuskan untuk putar-putar dahulu menikmati suasana sore.
Masalah yang saya hadapi waktu pulang justru pada sepeda motor dan mobil yang sering tidak mau memberi jalan. Beberapa kali saya dikagetkan dengan bunyi klakson atau terpaksa menepi hingga benar-benar minggir, karena motor yang tidak mau memberi jalan. Saya pikir, mungkin karena ini hari awal puasa. Jadi banyak yang ingin cepat pulang untuk segera berbuka puasa.
Tapi setelah dipikir, bisa jadi masalah ini disebabkan karena pengendara motor memang benar-benar tidak melihat keberadaan saya, karena suasana magrib, dan hari mulai gelap, sedangkan lampu jalan belum banyak yang dinyalakan. Jadi saya pikir perlu untuk menambah aksesoris lampu LED di bagian depan dan belakang untuk menambah visibilitas saat bersepeda disore dan malam hari. Agar lebih aman.
![]() |
Penambahan lampu let pada sepeda untuk meningkatkan visibilitas saat bersepeda di malam hari. Credit: Zachary Culpin/Solent News |
Over All
Hari pertama B2W menjawab semua kekuatiran saya. Ternyata tidak semenakutkan seperti yang saya kira. Saya justru sangat menikmati dan malah ketagihan untuk kembali dan kembali melakukannya. Ada moment-moment menarik dan yang hanya bisa kita rasakan dan nikmati saat kita mengayuh sepeda. Sensasinya berbeda dibanding saat kita naik motor atau mobil. Yang jelas penat dan stress hilang saat gowes santai pulang dari kantor. Mengembalikan mood hingga sampai dirumah hati dalam keadaan riang.
Setelah 1 bulan ber B2W, badan lebih terasa bugar. Berat badan saya turun banyak, hingga celana kerja terasa longgar, hingga harus lebih mengencangkan ikat pinggang.
Uang bensin dan oli samping bisa ditabung, ujung-ujungnya untuk dana beli komponen dan aksesoris sepeda gara-gara kena racun upgrade. Kalau ini sudah bukan lagi Bike to Work tapi sudah jadi Work for Bike. He 3x
Jika Anda tidak percaya, silakan coba sendiri.
Salam Gowes.